Jumat, 06 September 2013

Yang Lain

Yang Lain

            Senyum tipis yang tak pernah pudar dari parasnya, hari ini lagi-lagi adalah satu-satunya teman yang ia kenal baik. Selebihnya lumayan asing dan sangat asing. Hari ini, hari pertamanya sebagai siswi berseragam Abu-Abu. Ia tak samasekali mengenali wajah-wajah baru teman sekelasnya. Pasalnya ia melewatkan Masa Orientasi Peserta Didik yang biasanya dilalui oleh semua murid baru. Karena satu alasan. Dan Pihak sekolah beserta kepanitiaan MOPD bisa memaklumi keadaannya.
            Seperti lazimnya hari pertama pembelajaran di hampir setiap sekolah di seluruh penjuru dunia, belum ada kegiatan belajar mengajar. Hanya perkenalan dengan teman sekelas, dengan guru wali kelas dan serangkaian kegiatan adaptasi lainnya.
            Ibu wali kelas dengan wajah di penuhi bunga kebahagiaan, memimpin dengan renyah acara perkenalan ini, gilirannya diurut berdasarkan abjad nama masing-masing. Ia bernafas lega, karena namanya pasti akan selalu dipanggil di bagian akhir. Ia Berinisial “Y”.
            Ketegangan karena rasa asing satu sama lain mulai mencair. Oleh kepolosan kata-kata dari siswa-siswi baru SMKN 1 Gunung Putri Jurusan Elektronika Industri ini, ditambah dengan sesi tanya jawab yang membuat mereka bisa dengan leluasa berekspresi dan menyampaikan pendapat mereka. Mereka nampak seperti teman lama yang sudah bertahun tak berjumpa.
            Kini tiba gilirannya, salah seorang perempuan dari keseluruhan yang hanya berjumlah 2 orang perempuan dalam kelas kecil itu. Langkahnya kecil namun percaya diri, tetap menunduk hingga betul-betul berada pada bagian tengah di depan kelas. Barulah tampak wajahnya. Seraut wajah pemudi, yang tak banyak dapat di tebak. Seperti ribuan selubung menutupi karakter dan kepribadiannya.
“bismillah, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”
semua pandang kini tersenyum kearahnya, perempuan adalah hal yang langka di kelas ini, jadi kemunculannya kepermukaan adalah hal yang  dinanti-nanti.
“WALAIKUMSALAAM WAROHMATULLAHIWABARAKAAAATUH.!”

“Eeuuh, Perkenalkan nama saya Yang Lain, saya lahir dan besar di Ciawi, dulu bersekolah di SMPN Ciawi, semenjak ayah dipindah tugaskan ke Gunungputri, saya bersama keluarga pun jadi tinggal disini, tepatnya di Villa Asri situ tuh yang dekat Kantor Polisi”

hahahaha, dengan serentak seisi kelas dipenuhi oleh gelak tawa. Mereka menertawai keanehan dan kepolosan jawaban anak perempuan yang ternyata memiliki nama yang sangat aneh.

Sambil tertawa kecil ia melanjutkan “ohya, saya biasa dipanggil Yang atau Ayang atau apa saja yang cocok sama mulut masing-masing.”

“Oy, kamu rumahnya masih kredit apa udah lunas??” 
bhahahaha, seisi kelas kembali tertawa mendengar pertanyaan yang “ngajakin” macam begitu.

“hehe, saya juga kurang tau tuh, itu yang tau Ayah sama Ibu. Emmmh, masih ada yang mau ditanyakan?”

seorang pria mengangkat tangan kanannya, sama seperti Ayang, Ia memiliki senyum tipis yang melekat.

“eeuh, neng kenapa atuh namanya gak biasa begitu? Pasti ada sejarahnya ya sampai namanya bisa dapet yang itu?”

Ayang tersenyum lagi, menunduk mencoba mengumpulkan kata-kata.
“hehe, pertanyaan yang bagus. Nama saya memang punya sejarah yang cukup langka. Itu nama pemberian Ibu saya. Ceritanya kayaknya bakalan panjang, jadi lebih baik saya singkat saja ya. Sebelum saya lahir 16 tahun yang lalu...”

TTEEEEEETT.
Tiba-tiba terdengar suara bel pertanda istirahat yang serta merta memotong kata-kata Ayang. Ceritapun dibiarkan mengambang.

“Mohon maaf ya, belnya sudah berbunyi, nanti untuk mendengarkan lanjutan cerita Ayang, kalian bisa tanya langsung. Sekarang kalian punya waktu sampai jam 1 siang untuk shalat, makan, ke kamar kecil, atau apa saja terserah kalian. Jam 1 tepat, kita kembali lagi berkumpul di kelas ini.” terang ibu wali kelas, “baik Ibu tutup, Wassalamu'alaikum salam sejahtera.”
“WALAIKUMSALAAM” kali ini salam yang terdengar pecah dan riuh rendah, karena seisi kelas sudah melayangkan fikirannya ke 1 jam full waktu istirahat mereka.
®®®
            Ia terduduk memandangi keramaian kantin sekolah barunya, sambil menunggu pesanan makan siang. Sesaat yang lalu, ia baru saja berdesakkan shalat di tempat shalat yang disediakan sekolah yang dikhususkan untuk siswa perempuan, konsepnya sih lumayan, karena menurutnya dengan keadaan seperti itu, siswa perempuan yang berjumlah minoritas bisa lebih saling mengenal satu sama lain. Tetapi ruangan dan fisilitas untuk tempat wudhu nya sangat terbatas jadi harus mengantri dan berdesakkan. Hmmmh segitu juga Alhamdulillah.
            Semenjak matahari mulai naik, keringatnya tak berhenti berlelehan, Ayang tak kuasa menghambat lajunya, hari ini cuacanya sangat panas. Tapi Ayang sangat menikmati semuanya, sekolah ini memiliki kesejukan yang tidak biasa.

“Haay neng” sapa seorang lelaki.
“Haay Ayang” sapa seorang perempuan.

            2 orang murid sekelasnya menghampirinya, yang satu Lula Rahmawati satu-satunya teman sekelas perempuan Ayang dan yang seorang lagi adalah Yadi Jaya Abdullah. Laki-laki yang menanyakan muasal namanya.
            Yadi berperawakan sedang, kulitnya coklat rahang bulat, rambut cepak dan bahunya bidang. Sedangkan Lula, perempuan yang terlihat smart, PD, metropolis dan  gayanya terlalu maskulin.

“Eh kita gabung sama loe ya, Yang” pinta Lula, “Lagian gue sama Yadi pingin banget dengerin lanjutan cerita lo, Yang. Iya gak Di?” tanya Lula pada Yadi

“Emmh, iya-iya gpp kan, Neng?” Yadi kepada Ayang.
“Iya, enggak apa-apa.” menambahkan senyum, “tapi kalian serius mau dengerin saya cerita? Nama saya sebegitu bikin penasaran ya?” lagi-lagi senyum, Ayang senang dapat perhatian seperti ini hanya di satu hari pertamanya bersekolah.
“Tapi, kalian kok udah akrab banget keliatannyai? Udah lama kenal ya?” tanya Ayang pada Lula dan Yadi.
“Ah Ayang sih gak ikutan MOS kemaren. Gue sama Yadi itu satu gugus, jadi kita udah kenal dikit, Sambil nunggu makanan, mending Loe mulai cerita deh Yang, nanti kita keburu masuk lagi nih”Ucap Lula bersemangat.
Yadi tersenyum simpul, tanda setuju.

“Hehehe, kalian nih nafsu amat sih. Emmmmmh”
®®®
            Pukul 11.39,  Minggu malam, di RSIA Budi Asih, Kota Serang. Perutnya sudah mulas tak kepalang, berbaring tak tenang sambil merintih-rintih mengepal seprai tempat tidur dorong rumah sakit dan tangan seorang lelaki. 2 orang perawat mendorongnya terburu. 2 orang lainnya membukakan pintu ruang persalinan dengan sigap dan seorang dokter telah menunggu di bangsal persalinan.

            Seorang Lelaki yang terlihat seperti suami wanita itu berlari dengan bibir pucat, namun terpaksa tersenyum demi menguatkan istri nya yang kesakitan. Menatapnya tanpa berkedip seperti tak mau melewatkan sedetikpun saat berbahaya yang akan dilalui sang istri.
“Ayaaah, aaaaaah Ya Alllllaaaah, huuuuuh huuuuh huuuuh, astaghfirullah, sakit yaaaah, sakiiit.”
“yang kuat sayaang, kamu pasti kuat.” sambil mengeraskan kepalan tangannya pada tangan sang istri.

            5, 5 meter lagi tempat tidur ini akan memasuki bangsal persalinan. Diusapkannya sapu tangan katun ke kening sang istri yang bercucuran peluh sambil tetap menatap fokus kearah mata sang istri mencoba memindahkan kekuatannya.
            1 meter sebelum memasuki pintu, tangannya dipaksa terlepas dari tangan wanita yang dicintainya itu. Seorang perawat menyetopnya tiba-tiba.
“Bu, saya.. istri saya.. euuuh.” bicaranya tergagap, tempat tidur dorong sang istri sudah terus melaju kedalam lorong menuju bangsal persalinan.
“Pak Musthafa, bapak mau ikut menyertai istri bapak, atau menunggu di luar saja?”
            Ada gelagak gentar menjangkitinya, sedari kecil ia benar-benar lemas jika melihat darah bercucuran. Salah satu hal yang paling disesalinya.
“Bagaimana bisa aku takut dan tak menemani istriku yang menjemput maut didalam sana. Aku harus bisa.” ucapnya menguatkan dalam hati.

“Eeuh, tentu saja bu, tentu saja saya harus bersama istri saya di dalam.”
“Baik pak kalau begitu, bapak harus mengenakan pakaian wajib ruang operasi. Mari pak, bajunya tergantung di belakang ruang Steril.”

Ia berjalan bergegas, setengah berlari menyusuri lorong, tak mau lebih lama lagi meninggalkan istrinya seorang diri di bangsal  persalinan itu.

            Kini, tak ada lagi gentar saat ia menyibakkan pintu bangsal persalinan. Disana ada istrinya terbarinng seorang diri dikelilingi 4 orang bidan perempuan. Terdengar bungi logam alat-alat persalinan berbenturan. Segera ia mencari sebuah tangan yang harus ia genggam dan sepasang mata yang harus ia tatap di tengah ruangan sana. Istrinya.

“Sayang”
“Ayah, ayah tau gak? Rasanya lebih-lebih dari yang majalah 'Ayahbunda' ceritain. Huuuuuuh.”
“Ya Allah, sayang. Iya-iya sakit banget ya? Makanya anak kita harus cepat-cepet dikeluarin, biar sayang gak kesakitan lagi. Yah keluarin ya?”
“Iya, huuuh huuuh, tapiiih hhhhhh hhhhh, ayah bantuiiiiiin, aaaaaaaah, hhhhh, hhhhh.”

“Ayo Ibu, tarik nafas, lalu tekan bu. Anak Ibu sudah harus dikeluarkan, ketubannya sudah pecah.”
Pandu sang Dokter kepada wanita itu.
“hhhhhhhh, hhhhhhhhh, Eeeeeuuuuh, fuuuuh, fuuuuh.”
“Ayah, mungkin gak sih bisa keluar, jalannya kekecilan tau..... hhhhhhh....hhhhhh.”interupsi si wanita.
“Ya Allah sayaang, kamu mau emangnya kalo anak kita sampai gede diperut kamu terus? Kamu harus fokus sayang, fokus.”

“Ayo ibu, tarik nafas yang dalam, kemudian tekan.”
“HHHHhh,, bismillah” ia menahan nafas panjang, kemudian, “Eeeeuuuuuu, aaaaaaaaah.”
“hh, hh, hh, hh”Sang Istri terus berusaha sebisanya.
“Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar.”jerit sang suami menyahut-nyahut dalam hati.

            Pada tarikan dan hembusan yang kedua, proses crowning¹ masih belum juga terjadi. Seorang bidan dengan telaten membimbing sang wanita menyelesaikan proses persalinannya. Memastikannya untuk tetap sadar sebelum bayi berhasil dikeluarkan. Karena jika si wanita sudah kelelahan dan tak memiliki cukup tenaga untuk mengejan, maka hal ini bisa sangat berbahaya.
Hingga Tiba tarikan ketiga, sang wanita menghembuskan nafas begitu dalam hingga partikel-partikel ringan di sekitarnya seakan ikut terhisap kedalam saluran pernafasannya. Begitu dalam dan lama, kemudian.
Dengan mneyebut nama Allah:
“Eeeeeeuuuuuuuuh.!!!”
“hhh, hhh, alhamdulillah.”
Seorang manusia, baru saja dilahirkan kedunia. Tangisannya nyaring memecahkan ketegangan.

“Sayang, kamu berhasil sayang. Alhamdulillah” bisik sang suami sambil tersedu kemudian mengecup kening istrinya yang dibanjiri peluh.

“Ibu, Alhamdulillah, anak ibu sudah keluar bu. Alhamdulillah bayi laki-laki yang tampan dan insya Allah shalih.” sayup-sayup suara sang dokter terdengar di telinga sang wanita yang akhirnya dengan lancar berhasil melahirkan anak pertamanya. Maha Suci Allah.
“Al, hh, hh, Alhamdulillah, hhh, hhh. Terimakasih dok, amiin. Trimakasih.”
            Bayi lelaki itu lahir 29 November 1991 pukul 23.58 WIB.
“Silakan pak, diadzankan dulu bayinya.” ucap sang dokter lembut.
“Oh iya iya iya, dok.” jawab sang pria gugup, ini pengalaman pertamanya menjadi ayah. Pun ia sudah membaca banyak buku tentang kelahiran anak. Pengalaman yang sesungguhnya sungguh berbeda.
Allaahu Akbar, AllaahuAkbar,........”

®®®
“Oh, jadi Loe tuh punya kakak cowok ya, yang? Pasti ganteng deh kakak loe. Sekarang dia sekolah dimana? Atau udah kuliah yang? Loe ditanyain sejarah nama loe, malah nyeritain proses lahirannya kakak loe sih, yang?” sergah Lula bersemangat.
“Wey, Lola. Loe tuh kenapa sih ngebet banget? Si Ayang tuh belum selesai ceritanya. Main potong aja. Lagian yang namanya cowok diseluruh didunia tuh pasi ganteng lah Lol.” protes Yudi
“Haduuh Yad, gw tuh penasaran ama ceritanya Ayang. Biarin aja sih, Ayangnya juga slow-slow aja. Weeeek.” Lola tak mau kalah.
“hehehe, kamu nih Lul, lucu banget. Sabar dikit dong, kan saya udah bilang ceritanya akan lumayan panjang.” Tengah Ayang tenang, kemudian melajutkan,”Emmmh, aku emang pernah punya kakak laki-laki”
“Pernah??” sahut Lula dan Yadi bersamaan.
®®®
            Adzan pertama yang didengar sang bayi, baru saja selesai dikumandangkan.
“Ayah, aku mau lihat anakku.” pinta sang wanita dengan suara seperti bisikan..
“Ini bu, silakan lihat anak ibu. Wajahnya akan sangat ganteng kalau sudah dewasa nanti, bu”
            Didekatkan bayi laki-laki yang merah itu ke wajah sang wanita. Bibirnya bergetar. “Inikah anakku?”. Wajahnya bulat, tangisannya sangat keras menunjukkan keinginannya yang kuat. Kaki dan tangannya bergerak-gerak heboh memaksa minta cepat-cepat diajarkan berlari dan main sepeda. Kemudian sambil takut ia kecup keningnya yang masih banyak terdapat sisa noda darah, ia belai tangannya yang kecil dan halus dengan sangat hati-hati.
Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi.
“Dokter, ada yang tertinggal didalam.” Sahut seorang bidan mengejutkan suasan haru yang mengambang di bangsal persalinan itu.
Bayi lelaki itu ditarik lembut dari ibunya kemudian disimpan di ranjang khusus bayi untuk segera dibersihkan.
“Maaf bu, anak ibu akan kami bersihkan terlebih dahulu, nanti ibu bisa menemuinya lagi segera setelah kami selesai.” ucap salah seorang bidan lembut.
“oh, yasudah.” jawab si ibu dengan senyum penuh.

Mendengar seruan janggal dari salah seorang anggota timnya, segera sang dokter kepala  menuju Tempat Kejadian Perkara. Wajahnya sungguh terkejut melihat kejadian ini.
“Masih ada satu bayi lagi didalam sini, pak, bu” ucap sang dokter dengan ekspresi janggal, “Ibu Rosita, ternyata mengandung dua buah bayi.”

“Apa dok?”
“Ibu, Ibu harus mengejan sedikit lagi untuk mengeluarkan bayi Ibu yang kedua.”

            Kali ini tidak sepayah perjuangan yang pertama. Proses persalinannya terjadi begitu saja saat rosita memberikan sedikit tekanan pada bayinya.
“Alhamdulillah, bayi Ibu dan bapak genap sepasang. Yang ini perempuan.” seru sang dokter dengan ekspresi terkejut yang samar oleh senyuman bahagia.
            Kenyataan ini sungguh menggemparkan seisi ruangan. Terlebih bagi sepasang suami istri yang terperangah di tengah ruangan. Sebelumnya tak ada satupun yang memberitahu bahwa janin yang dikandung ibu Rosita itu berjumlah 2 orang. Dan kini, bahkan dokter yang menangani langsung proses persalinannya juga tak akan tahu ada 2 orang yang akan lahir dari rahim yang sama hingga kepala Janin yang lain yang lahir pada urutan kedua terlihat oleh salah satu perawat.
            Baik Bapak, maupun Ibu Musthafa, tak ada yang mampu angkat bicara. Mereka terpaku. Ibu musthafa akhirnya meneteskan air matanya. Tak mengerti tentang apa yang sedang ia rasakan saat ini. Ah yaa, ia seharusnya bahagia.
“Bu, Boleh?” Pinta Bu musthafa sambil berbisik lirih.
“Kami benar-benar tidak memprediksi kelahirannya, bu. Dan dari catatan pemeriksaan yang ibu jalani selama masa kehamilan. Semua tanda yang menunjukkan bahwa terdapat bayi kembar, itu nihil, bu. Ini kasus pertama yang pernah dialami rumah sakit ini. Dan bisa jadi kasus pertama di sejarah persalinan Negara ini.” jelas sang Dokter sambil menyerahkan bayi perempuan Keluarga Musthafa.
Pundaknya bergetar. “Bayi ini juga ada di rahimku?” ucapnya dalam hati. Ia kelelahan. Kemudian tak sadarkan diri.
®®®
“Kenapa harus nama itu, Bu?”protes Musthafa, “ayah yakin itu akan mempengaruhi psikologinya jika ia beranjak dewasa nanti, dia akan merasa menjadi yang tidak diinginkan. Dia akan merasa disisihkan bahkan oleh orang tuanya sendiri.” lanjutnya.

“Ayah sayang, dengerin dulu ibu bicara ya. Dia itu berbeda, dia akan menjadi pembeda dari teman-teman di sekitarnya. Dia akan menjadi pembeda dilingkungannya. Ibu yakin itu. Dia tumbuh dalam rahimku bahkan tanpa aku tahu. Syuhada yang selalu kita panggil namanya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sedangkan ia? Ia hanya tumbuh sehat dari balik janin kakaknya. Bahkan sudah terbukti kan, dia jauh lebih kuat.” sahutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca,” Dia justru yang berhasil hidup. Dia seorang wanita yang akan sangat kuat, ayah,” kini airmatanya lebih deras,  “Betapa bodohnya aku sebagai ibunya,  Hingga tak bisa merasakannya didalam sana. Bisa aja dia iri melihat kasih sayang kita yang hanya tertuju pada syuhada, Yah.”

            Musthafa memandang Iba istrinya. Ini sungguh berat bagi dia, bagi mereka. Syuhada, anak laki-laki pertama mereka, harus puas 2,5 jam saja merasai dunia. Tak lama setelah persalinan, Jantungnya terindikasi melemah dratis. Dan tak kuat bertahan lama memompa darah ke penjuru tubuhnya. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit yang sama. Meninggalkan ibu dan ayahnya bersama setumpuk harapan, meninggalkan ia yang lain, ia yang berhasil hidup.

“Sudah, sayang. Ini bukan salah siapa-siapa. Kelahiran, kematian, itu semua hanya Allah yang bisa mengaturnya. Bukan Ibu Bidan, bukan dokter yang me-USG rahim Ibu, bukan Ibu dan bukan ayah. Ini sudah kehendak Allah, Bu. Kita harus sabar ya sayang.” ucap Musthafa menenangkan istrinya. “Dan tentang namanya, kalau itu bisa membuat kesedihanmu berkurang. Ayah tak akan menolak ”

            Selanjutnya Rosita tak bisa berkata apa-apa. Hanya memeluk pria yang menjadi suaminya itu erat-erat.

Yang Lain, lahir 30 November 1991 pukul 00.05 WIB.
®®®
            Lula dan Yadi sampai terbuka mulutnya mendengarkan sedikit kisah tentang kehidupan Ayang. Makanan untuk makan siang yang mereka pesan sudah menguap hangatnya. 5 menit lagi sebelum bel tanda selesai istirahat berbunyi. Kantin juga sudah mulai sedikit pengunjungnya dibanding beberapa menit lalu. Tak ada yang mulai berkomentar.

“Jadi begitu Lul, Yad, kenapa nama saya bisa lucu kaya gini.” sahut Ayang tanpa lupa tersenyum.
“Sumpah, keren banget, Yang” lanjut Lula.

            Sambil melirik jam tangannya, Ayang angkat bicara, “Eh, 5 menit lagi kita masuk loh. Ayo cepetan makannya kita abisin.”
            2 orang yang masih dengan ekspresi setengah tak percaya itu, menurut saja kata-kata Ayang, mereka mulai makan dengan cepat.
®®®
            Rumah ini memang masih baru, bau catnya baru, atap baru, lantai baru dan mungkin hanya beberapa perabotan saja yang bekas pakai dari rumah tinggal yang sebelumnya. Ayang memasuki rumah yang langsung terasa akrab, berpindah-pindah rumah adalah hal yang biasa baginya dan keluarganya, tentu saja karena tuntutan pekerjaan ayahnya. Hari pertama masuk sekolah bukanlah hari yang terlalu sibuk baginya, makanya ia pulang cepat
            “Assalamu'alaikum, Ibuuuu, Ayaaah....” sahut Ayang penuh keceriaan mencari kedua orang tuanya dengan membawa sekantung besar aksesoris untuk kamar.
“Wa'alaikumussalam, gimana sekolah baru Yang? Sekelas isinya cowok semua seru ngga?” jawab ayahnya yang sedang sibuk merapikan tata letak barang-barang.
“Hehehe, aku ngerasa cakep yah, ga ada saingan. Hehehe” Timpal nya renyah, “Ibu mana yah?”
“Asik dong, tapi tetep buat kamu, ayah harus yang milihin. Noh Ibu lagi bikin jus didapur.”
“Ih apaan sih ayah, aku gak tertarik pokonya. Ibuuuuuuuu.” jawabnya kini setengah meledek dan mencari ibunya di dapur
“Eh, Ayang. Kapan kamu pulang?” tanya ibu.
“Baru banget tadi bu. Ibu lagi ngejus apa? Sini Ayang aja yang lanjutin.”
“Eh, udah sana ganti baju dulu. Tanggung sedikit lagi juga selesai, Yang.”
“Hehehe” Seringai nya sambil berlalu. “Ayang bantu-bantunya nanti ya, habis ganti baju.”
            Sisa hari itu keluarga kecil ini habiskan dengan menata rumah baru mereka senyaman mungkin.  Satu kamar untuk ayang, kamar yang paling luas; kamar berikutnya untuk Ayah dan Ibu, kamar paling kecil untuk mushalla, Dan kamar terakhir, kamar keempat untuk Syuhada Alamsyah, putra pertama keluarga ini.
            Seusai shalat maghrib berjamaah, Ibu memasuki ruang tidur anak lelakinya. Syuhada. Memandangi kamar itu lekat-lekat. Seperti memang ada seseorang yang hidup dikamar ini. Dekorasinya di desain sedemikian rupa agar mewakili karakter seorang remaja laki-laki dengan segala ketertarikannya. Kamar 3 x 4 meter bercat hijau muda dengan gordeng berwarna coklat kayu ulin, tempat tidur bersprai coklat, poster-poster tokoh kartun dan sketsa alam, kaligrafi, rak buku yang berisi sebagian buku-buku bacaan Ayang, ia serta Ayah. Semua ini adalah Ayang sendiri yang mendekornya. Bahkan kamar Ayang sendiri masih belum samasekali difikirkan mau ditata seperti apa. Kamar ini seakan merepresentasikan sisi kelaki-lakian Ayang, menggambarkan harapan ibu dan ayah tentang anak lelaki mereka yang jika saat ini masih hidup adalah seorang remaja lelaki yang sedang gencar-gencarnya mencari kebenaran haqiqi dan menemukan jatidirinya. Semua hobi yang tergambar dikamar ini adalah hasil riset keluarga ini tentang perkembangan remaja lelaki seusia  Ayang. Kenyataannya, meski 16 tahun yang lalu syuhada telah menghembuskan nafas terakhirnya didunia, namun ia tetap hidup di dalam hati keluarga kecil ini.

“Kak, Ayang sudah SMA sekarang. Dan tebak, dia mengambil jurusan Elektronika. Jurusannya anak laki-laki. Kakak, tunggu Ibu disana ya. Ibu kangeeeen banget sama kakak.” Airmatanya mulai mengalir. “Do'akan Ibu ya kak, supaya nanti kalau kita bertemu, Ibu dalam kondisi yang baik.” sambil mengamini dalam hati.

            Di kejauhan Ayang menatap Ibu nya, dalam sunyi….


            Sedari awal, semua perlengkapan bayi dan anak, selalu tersedia sepasang. Box bayi, tempat makan, Roda berjalan, buku mewarnai, buku berhitung, mainan, dan segala hal-hal kecil tentang kebutuhan anak mereka di buat sepasang. Satu untuk anak lelaki, satu untuk perempuan. Setelah tak terpakai dan tentu saja dengan kondisi yang  masih sangat layak pakai, semuanya selalu disumbangkan ke tetangga dan atau ke panti asuhan di sekitar tempat mereka tinggal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar